Skip to main content

Modest Fashion Hari Raya Idul Fitri Anti Gerah Ala Yopi Saputra

Hi Fashion People,

Minggu lalu saya diundang oleh Jakarta Fashion Hub, sebuah coworking space sekaligus ruang kolaboratif di Jakarta yang diinisiasi oleh Asia Pasifik Rayon (APR). Platform ini hadir untuk mendukung perkembangan industri fashion dan tekstil lokal melalui  berbagai fasilitas kreatif yang dimanfaatkan oleh para desainer maupun para penggiat fashion tanah air. 


Di tempat ini tersedia ruang kerja bersama, studio foto, hingga fasilitas menjahit yang dirancang untuk mendorong kolaborasi, kreativitas, serta pengembangan tren sustainable fashion di Indonesia. Kehadirannya menjadi salah satu ekosistem penting bagi para pelaku industri fashion yang ingin terus berkembang dan berinovasi. 

Dalam kesempatan tersebut, saya berkesempatan menjalani sesi wawancara bersama tim kreatif dari Jakarta Fashion Hub. Kami berbincang mengenai topik "Modest Fashion Anti Gerah" sebagai inspirasi tampilan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Diskusi ini membahas bagaimana memilih material, potongan, serta cara styling yang tetap nyaman dikenakan di cuaca tropis tanpa mengurangi kesan elegan dalam berbusana. 

Bagi saya, kolaborasi ini tentunya menjadi pengalaman yang menyenangkan. Mengingat Jakarta Fashion Hub merupakan salah satu platform fashion yang memiliki jangkauan luas, kesempatan baik ini sekaligus membuka ruang agar perspektif dan suara saya di bidang fashion dapat menjangkau audiens yang lebih luas. 

Semoga ke depan semakin banyak ruang kolaborasi seperti ini yang dapat mendorong pertumbuhan industri fashion lokal sekaligus memperkaya percakapan kreatif di dalamnya. 

Berikut beberapa kutipan wawancara saya dengan tim kreatif dari Jakarta Fashion Hub.
 
1. Hari Raya biasanya dimulai dari pagi, lalu silaturahmi, berpindah tempat, duduk lama, berdiri lama. Dalam konteks seperti itu, apa yang sering dilupakan saat desainer merancang busana modest?

Hari Raya bukan hanya momen tampilan indah di pagi hari. Ia adalah rangkaian aktivitas panjang dimulai dari salat Id, bersilaturahmi dari rumah ke rumah, duduk lama, berdiri lama, makan bersama hingga perjalanan yang kadang melelahkan. 


Dalam konteks seperti itu, ada beberapa hal yang justru sering dilupakan saat merancang busana modest untuk lebaran. 
  • Perhatikan Sirkulasi Udara Pada Busana
Banyak desain terlalu fokus pada layering, detail payet, atau bahan tebal agar terlihat mewah dan festive. Padahal, Hari Raya di Indonesia kususnya Jakarta identik dengan cuaca panas dan mobilitas tinggi. Bahan yang terlalu tebal atau potongan yang terlalu rapat akan menghambat sirkulasi udara. Akibatnya, busana memang tampak anggun, tetapi pemakainya merasa gerah dan cepat lelah. Kenyamanan seharusnya menjadi prioritas, bukan sekadar visual.
 
  • Berat Busana yang Sering Diabaikan
Layering berlebihan, bordir penuh, atau material berat memang memberikan kesan mewah. Namun, berat busana memengaruhi stamina. Bisa bikin bahu terasa tegang, tubuh cepat lelah, dan energi terkuras sebelum hari selesai. Untuk aktivitas seharian, keseimbangan antara estetika dan bobot busana sangat penting untuk diperhatikan.
  • Detail Kecil yang Berdampak Besar
Hal-hal sederhana seperti lengan terlalu panjang tanpa kancing, manset yang terlalu sempit, atau kerah baju yang terlalu tinggi sering kali menyulitkan saat makan atau bergerak bebas. Modest bukan berarti membatasi fungsi dasar tubuh untuk bebas bergerak secara natural. Justru, modest wear yang baik adalah menghormati kebutuhan dasar manusia, yaitu kesadaran ruang, kenyamanan gerak, ketahanan aktivitas, dan empati terhadap tubuh pemakainya. 

2. Apakah layering masih relevan untuk Hari Raya di cuaca panas? Kalau iya, bagaimana cara membuatnya agar tetap ringan?

Bagi saya, layering masih tetap relevan untuk busana Hari Raya. Ia mampu memberikan dimensi tanpa harus bergantung pada detail payet yang berlebihan. Layering juga membantu membentuk siluet yang lebih anggun dan tertutup, sekaligus memudahkan transisi tampilan dari pagi saat salat Id hingga malam hari saat bersilaturahmi. Kuncinya, bukan menghindari layering, melainkan kamu dituntut harus jago dalam styling busana Hari Raya agar tidak terasa gerah ketika dikenakan.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika membuat suatu tampilan dengan layering :
  • Pilihlah Bahan yang Ringan dan Breathable
Gunakan bahan atau material yang tipis dan ringan, seperti organza atau kain transparan berstruktur ringan, agar lapisan tetap memberi efek visual tanpa menambah beban berlebihan. 
  • Perhatikan Bahan Bagian Dalam
Lapisan terdalam sebaiknya berbahan yang mudah menyerap keringat dan nyaman di kulit. Inner atau manset yang tepat akan sangat menentukan kenyamanan sepanjang hari. 
  • Hindari Layering di Area Rawan Panas
Jangan suka menumpuk bahan di area tubuh yang mudah berkeringat, seperti ketiak, punggung, dan lipatan paha. Fokuslah layering pada area tubuh yang aman secara sirkulasi udara agar busana yang dikenakan tetap sejuk. 
  • Pilihlah Warna yang Memberikan Kesan Ringan
Warna pastel atau nuansa lembut membantu menciptakan kesan visual yang ringan dan segar. Selain nyaman dipandang, warna-warna ini juga mendukung estetika Hari Raya yang mengusung konsep yang bersih, suci, dan hangat.


3. Dalam aktivitas silaturahmi yang banyak bergerak, duduk, dan berjalan, potongan busana seperti apa yang paling ideal agar tetap sopan tapi fleksibel?

Kunci busana Hari Raya yang nyaman sekaligus santun terletak pada siluet yang longgar terkontrol, bukan longgar berlebihan sehingga merepotkan, dan bukan pula busana sempit yang membatasi gerak. Siluet yang tepat memberi ruang bernapas bagi tubuh, tetap sopan secara visual, namun fleksibel untuk aktivitas seharian. Berikut beberapa pilihan potongan busana yang bisa menjadi solusi :
  • Busana A-Line
Busana tipe ini termasuk idel, kaena potongan A-line memberi ruang di area paha hingga lutut. sehingga langkah terasa lebih leluasa. Namun, perlu untuk dihindari jenis potongan A-line yang terlalu lebar. Siluet yang terlalu besar dan lebar justru bisa menyulitkan saat berjalan atau berpindah tempat karena membutuhkan usaha lebih untuk mengontrol kainnya. Pilih bukaan yang proposional agar tetap ringan dan elegan. 
  • Tunik Panjang dengan Celana Palazzo atau Kulot
Perpaduan tunik panjang dan celana palazzo atau kulot cocok bagi yang ingin tampil modern namun tetap memberikan kesan santun saat Hari Raya. Tunik yang menutup area pinggul hingga paha membentu menciptakan proporsi tubuh yang lebih seimbang. Sementara itu, celana palazzo memberi ruang gerak yang nyaman tanpa membentuk siluet tubuh yang ketat. Kombinasi ini terasa ringan, praktis, dan tetap terlihat rapi untuk silaturahmi dari pagi hingga malam. 
  • Outer Panjang dengan Inner Simple
Outer panjang menghadirkan sentuhan layering yang membuat tampilan Hari Raya kamu terlihat lebih berkelas tanpa perlu detail berlebihan. Padupadankan inner polos dengan outer yang panjangnya hingga lutut atau betis agar tubuh tampak lebih tertutup dan proposional. Model busana ini cocok untuk kamu yangin tampil chic tanpa kesan yang berlebihan. 

Perlu diperhatikan, pastikan outer yang dipakai tidak terlalu berat agar tidak menganggu ruang gerak kamu dan tetap menjaga stamina kamu selama beraktivitas sepanjang hari.
 

Pada akhirnya, busana Hari Raya bukan sekadar tentang estetika. Ia adalah tentang bagaimana siluet bekerja selaras dengan tubuh, memberi ruang, menjaga kesopanan, dan tetap mendukung kenyamanan sepanjang hari. 

Comments

Popular Posts

Gemerlap dan Keanggunan Bertemu dalam Glitz Gala Karya Ivan Gunawan

Hi  Fashion People ! Di tengah atmosfer gemerlap panggung Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) 2025. Desainer Ivan Gunawan menutup hari dengan pertunjukkan yang memukau bertajuk Glitz Gala. Sebuah persembahan mode yang merayakan kemewahan dan ekspresi diri dalam balutan keanggunan, dan pesona malam yang berkilau.  Panggung runaway dipenuhi aura glamor dengan gaun-gaun panjang menjuntai dengan detail payet, kristal, dan rupa-rupa corak bunga yang menggoda, dan sentuhan satin yang memantulkan cahaya disetiap langkah para model.  Kombinasi warna-warna cerah yang memikat seperti emas, perak, merah marun, dan hitam berpadu menghadirkan suasana megah layaknya pesta malam di istana modern.  Melirik pada hiasan telinga berwujud artistik berwarna emas dan perak dan kalung emas dengan batu zamrud menambah semarak ornamen dalam sebuah tampilan yang dramatis.  Koleksi ini seolah-olah menegaskan kembalinya jati diri seorang Ivan Gunawan sebagai desainer yang tak sekadar menci...

Indonesia Pop Art

Hi Fashion People ! Pop art yang berasal dari kata populer art merupakan aliran seni yang memanfaatkan simbol dan gaya visual yang berasal dari media massa yang populer seperti surat kabar, televisi, iklan, media sosial, dan lain-lain. Pop art merupakan sebuah gerakan seni yang awal mulanya muncul di Inggris pada tahun 1950-an di awal-awal zaman post modern art , zaman di mana semua orang sudah mulai bosan dengan gaya modern.  Kemunculan Pop art di tengah masyarakat memberikan angin segar, karena Pop art berhasil mendobrak batas-batas artian seni yang agung. Pada waktu itu, seni hanyalah sesuatu yang hanya dinikmati oleh kalangan kelas atas, sehingga adanya gerakan Pop art , seni bisa dinikmati oleh semua kalangan, mulai dari golongan bawah hingga golongan atas.  Di Indonesia, Pop art muncul dan berkembang sejak tahun 1970. Pada Agustus 1975 mulai muncul Gerakan Seni Rupa Baru (GSBR). Gerakan ini muncul atas dasar keinginan untuk kebebasan berekspresi dan tanpa ikatan ...